Ditengah hiruk pikuk arus deadline kerjaan, seperti ada perasaan yang mengganggu hati. Saya tahu ini pasti sisa-sisa perbincangan semalam dengan seorang kawan lama. Kami sedikit berpikir mainstream tentang apa yang mereka sebut cinta. Cinta yang menggebu-gebu dan terlihat semu. Bahkan sampai sekarang pun saya belum bisa mendapat deskripsi yang jelas tentang itu. Saya hanya bisa melihat sedikit gambaran kasar cinta lewat layar kaca.
Mungkin saya perlu berterima kasih kepada Dia sang Maha Oke yang telah menyisihkan seorang teman ketika saya butuh pemecahan. Dia bukan Wali, hanya seorang kawan lama namun dia mampu menunjukkan taji dan seketika membalikkan suasana hati. Mungkin terkesan terlambat tapi saya menikmati semua proses ini. Saya pernah menjadi yang disalahkan. Saya pernah menjadi yang dibenci. Saya pernah menjadi yang ditinggalkan. Hanya karena saya tidak bisa membalas seperti apa yang mereka rasakan. Bukan benci. Bukan. Sungguh. Mungkin ini yang mereka sebut perasaan. Perasaan yang tidak dapat diatur oleh seorang sutradara kawakan sekalipun.